Senin, 07 November 2016

Sistem Franchise

Anak atau Sekolah yang Bermesalah?

Hasil gambar untuk gambar kartun anak atau sekolah bermasalah

      Para orangtua dan guru yang berbahagia di seluruh pelosok tanah air tercinta, mengapa anak-anak kita di sekolah banyak yang masuk dalam kategori bermasalah? Sebab utamanya adalah perbedaan antara fitnah penciptaan anak dengan sistem sekolah. Anak kita diciptakan dengan berbagai ragam perbedaan. Mulai dari fisik, cara berpikir, watak, bakat, dan talenta, sementara sistem sekolah kita hanya terdiri atas satu sistem yang seragam untuk semua jenis anak. Semua anak yang berbeda-berbeda tersebut diproses dengan cara yang sama dan kriteria yang sama.

    Sebagai contoh, sekolah dengan sistem seragam ini biasa menetapkan kriteria anak baik adalah yang "patuh dan penurut" sehingga anak-anak yang bermacam ragam tersebut untuk bisa  menjadi "anak-anak" harus menjadi "patuh dan penurut". Siapa pun yang tidak patuh atau penurut akan dianggap bermasalah.

    Sementara kenyataannya anak kita memiliki bermacam-macam watak, ada yang memang mudah menurut, ada yang kritis penuh dengan pertanyaan, ada yang berpendirian keras, ada yang ingin berpikir dan berkreasi bebas, dan sebagainya, tetapi mereka semua, suka atau tidak suka, harus menjadi penurut. Jika tidak, mereka akan masuk dalam kelompok anak-anak bermasalah.

  Lain halnya dengan sekolah yang memahami perbedaan anak atau berbasiskan Multiple Intelligence 
and Holistic Learning. Sekolah ini akan menetapkan kriteria anak yang baik adalah anak yang kooperatif bukan yang penurut. Apa bedanya? Anak yang penurut adalah anak yang mengikuti semua perintah tanpa berpikir, dengan tujuan untuk menyenangkan orang lain, sementara anak yang kooperatif adalah anak yang setiap tindakannya didasarkan pada keputusan dan pertimbangan logis/kritis, berdasarkan nilai-nilai sosial yang dibentuk dan diakui bersama.

"Anak yang penurut mengikuti semua perintah tanpa berpikir, dengan tujuan untuk menyenangkan orang lain"

    Sekolah jenis ini pada umumnya memebebaskan setiap anak untuk berbeda, berbedapakaian, berbeda pendapat, berbeda keinginan, berbeda cara menyelesaikan tugas-tugas, tetapi mereka selalu diajak untuk berdialog dan kooperatif dalam  membuat keputusan-keputusan untuk kepentingan bersama.

     Nah ... sekarang, silakan Anda menilai, sesungguhnya anak kita atau sistem sekolahnya yang selama ini bermasalah.[]


Keterangan : Buku Ayah Edi, Judul : Punya Cerita, Penerbit : Noura Books (PT Mizan Publika) 2013

Franchise di Indonesia

Sekolah di Mata Siswa

Hasil gambar untuk gambar kartun anak tidak senang di sekolah

      Wahai para orangtua dan guru yang saya cintai, pernahkah Anda jalan-jalan dan mampir di sebuah warnet pada jam-jam anak bersekolah? Saya jamin Anda akan menemukan pemandangan yang mengagumkan dan sekaligus mencengangkan. Di sana, Anda akan menemukan barisan anak-anak berseragam sekolah yang sedang asyik bermain game online. Sebagai seorang praktisi pendidikan, pemandangan ini mengusik perasaan saya.

        Apa gerangan yang menyebabkan mereka lebih memilih ke warnet daripada belajar di sekolah? Apakah karena mereka yang kuarang terdidik atau justru sekolah mereka yang tidak menarik? Namun, saya pikir apa pun alasannya, keadaan ini sungguh tidak layak terjadi di negeri yang sudah carut-carut seperti ini. Iseng-iseng saya bertanya kepada anak-anak ini.

       "Eh, kenapa kalian kok enggak pada sekolah, bolos ya?"
Dengan nada acuh tak acuh mereka menjawab, "Iya, Om. Bosen di kelas melulu tiap hari, gitu-gitu aja enggak aada tantangan. Asyikan main game kayak gini, banyak tantangannya, Om".

      Untuk memuaskan rasa ingin tahu, saya coba tanyakan kepada teman lainnya pertanyaan yang sama. Lalu jawab si anak, "Iya, Om aku bolos, abis gurunya pada galak-galak sih. Bisanya cuma nyuruh ngerjain tugas aja. Dah gitu dia malah ngeloyor keluar enggak tau ke mana", Begitulah kira-kira dialog asli saya dengan mereka.

"Hampir 75% responden mengatakan bahwa mereka mau pergi ke sekolah karena ingin bertemu dan berkumpul bersama teman-temannya Bukan untuk tujuan belajar".

     Suatu hari raya pernah menebar angket kepada siswa SLTA di kota Bogor untuk mengetahui seberapa besar ketertarikan mereka pada proses belajar-mengejar di sekolah. Yah, hasilnya hampir sama. Hampir 75% responden mengatakan bahwa mereka mau pergi ke sekolah karena ingin bertemu dan berkumpul bersamateman-temannya. Bukan untuk tujuan belajar.

     Para orangtua dan guru yang saya cintai, anehnya ada satu sekolah yang juga berada di kota Bogor, yang murid-muridnya merasa begitu antusias pergi ke sekolah. Mereka betah untuk terus mengerjakan tugas-tugas, walaupun jam belajar sudah usai.
Anak-anak ini sering sulit sekali diajak pulang sehingga sebagian sopir mereka sering kewalahan meminta mereka untuk pulang.

       Lalu, ada apa sebenarnya dengan sekolah-sekolah yang para muridnya tidak betah di sekolah dan bahkan lebih betah di warnet? Ya, tentu saja jika tanyakan kepada sekolah tersebut, para gurunya dengan enteng akan menjawab, "Oh anak-anak itu memang sering mbolos, pak. Mereka memang sudah biasa begitu". Ya, lagi-lagi anak-anak kitalah yang bersalah. Kita, para guru, tidak pernah merasa bersalah.[] 

Keterangan : Buku Ayah Edy, Judul : Punya Cerita, Penerbit : Noura Books (PT Mizan Publika) 2013 

Bimbingan Belajar


Anak yang Tidak Suka Belajar

Hasil gambar untuk gambar kartun anak malas belajar
     Para orangtua dan guru yang berbahagia di mana pun Anda berada, banyak orangtua yang datang berkonsultasi, mengeluhkan anaknya yang katanya tidak mau belajar. Pernah seorang ibu bercerita kepada saya, "Anak saya ini, lho, Yah. Kalau disuruh belajar, waduh susahnya minta ampun".

      Lalu dengan bergurau saya bertanya, "Bagaimana jika disuruh bermain, apa susah juga?"

"Ya jelas enggak, lah ... kalau bermain tak perlu disuruh langsung lari," katanya lagi.

     Nah, itulah permasalahan yang dihadapi oleh hampir setiap orangtua di seluruh Indonesia. Padahal faktanya, anak memiliki software program belajar yang sudah terbawa sejak lahir di dalam otaknya. Ada juga yang menyebut software ini sebagai "insting belajar".

   Coba perhatikan, pernahkah Anda mengajari bayi Anda untuk tengkurap, tetapi tiba-tiba suatu ketika dia sudah bisa tengkurap, kemudian telentang, dan merangkak. Apakah Anda yang ajarinya atau insting belajarnyakah yang membuat semua ini terjadi? Pada hakikatnya, insting belajar ini senantiasa mengajak anak untuk belajar. Jadi, akan aneh jika seorang anak yang memiliki software belajar yang canggih justru tidak mau belajar. Apakah anaknya yang salah atau kitalah yang keliru mengajarinya?

"Ada tiga kategori besar sistem otak yang berhubungan dengan belajar, yaitu organ berpikir kreatif, organ berpikir logika, dan organ berpikir memori".

   Menurut pakar pendidikan yang mempelajari sains otak, secara alami, organ pembelajaran itu bergerak mulai dari organ berpikir kreatif menuju organ berpikir logika, terakhir hasinya disimpan di organ berpikir memori. Namun, mengapa anak-anak kita menjadi sulit, bahkan anti terhadap apa yang namanya belajar? Karena kita para orangtua dan sekolah pada umumnya mengartikan belajar hanya "menghafal", yakni hanya menggunakan organ berpikir memori, yang juga dikenal dengan Memory Learning atau yang juga sering dipletkan menjadi Parrot Learning, belajar ala beo.

     Selama ini, sistem pembelajaran telah menentang proses alam atau penciptaan Tuhan dalam sistem bekerja otak. Dalam proses belajar, mestinya yang pertama kita lakukan adalah memancing proses kreatif setiap anak. Caranya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang menarik minat anak, seperti mengapa ulat bisa berubah menjadi kupu-kupu. Jika proses kreatif itu sudah bekerja, secara otomatis si anak akan tergerak mengaktifkan otak logika untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kreatif tadi.

   Pada akhirnya, setelah proses selesai, tanpa diminta, semua yang telah dikerjakannya akan disimpannya dalam memori. Namun, jika proses memori, tidak akan menyentuh proses kreatif, apalagi logika. Tentu saja hal ini tidak akan menarik minat anak. Itulah sebabnya mengapa mereka susah diminta untuk belajar.

    Contoh yang paling sederhana dari anak-anak yang dibesarkan dengan proses kreatif adalah Sir Isaac Newton. Pada saat Newton beristirahat dan tertidur di bawah pohon apel, tiba-yiba jatuh buah apel menimpa kepalanya. Apa reaksi dari Newton?

    Wow! Apakah gerangan yang menyebabkan apel ini bisa jatuh ke bawah? Maka terciptalah Hukum Gravitasi Newton. Seandainya kejadian yang sama terjadi pada Anda. Saat Anda terkantuk-kantuk di bawah pohon mangga, lantas ada mangga jatuh ke kepala Anda, apa kira-kira reaksi Anda?Akankah tercipta hukum gravitasi kedua setelah kejadian itu?

      Mengapa kita tidak juga mau mengubah sistem belajar anak-anak kita, baik di sekolah maupun di rumah, agar mereka menjadi karanjingan untuk selalu belajar? Ya, persis seperti salah satu sekolah yang pernah kami kunjungi di Bogor. Di sana muridnya sulit sekali diajak pulang, walaupun jam belajar sudah usai.[]

Keterangan : Buku Ayah Edy, Judul " Punya Cerita, Penerbit :Noura Books ( PT Mizan Publika ) 2013