BIMBINGAN BELAJAR


    Hasil gambar untuk gambar kartun ribut dalam kelas   
Anak yang Gagal Belajar atau Guru yang  Gagal Mengajar?

 Judul di atas merupakan pertanyaan menarik yang diajukan kepada para orangtua dan pendidik. Mengapa? Karena selama ini, kita, orangtua dan guru tidak pernah merasa gagal mendidik, yang ada selalu anak yang gagal dididik. Begitulah isi salah satu pemaparan pemateri seminar tentang fenomena anak gagal belajar.

      Saya jadi berpikir, benar juga, kenapa kita selalu berpikir anaklah yang gagal belajar. Apa bukan sesungguhnya justru kita, guru dan orangtua, yang telah gagal mengajar? Lama sekali saya termenung, membolak-balik pertanyaan ini dalam benak. Jika anak yang gagal belajar, berarti kan anak itu diciptakan untuk gagal. Lalu, apa iya Sang Pencipta Yang Maha Sempurna itu tidak mampu menciptakan semua anak untuk bisa berhasil?

     Saya pernah membaca sebuah buku tentang paradigma ilmuwan sejati. Di kalangan para ilmuwan, jika ada sebuah proses uji coba yang gagal atau hasilnya tidak sesuai dengan harapan, sang ilmuwan tidak pernah mengatakan materinya gagal, melainkan prosesnyalah yang gagal.

    Untuk itu, biasanya para ilmuwan akan memodifikasi atau melakukan perbaikan pada prosesnya. Lalu, mengapa kita selama ini tidak berpikir seperti itu? Padahal sekolah merupakan tempat untuk mencetak para ilmuwan masa depan. Nah ..... secara kebetulan Tuhan menjawab pertanyaan saya dengan sebuah buku hasil kerja sama penelitian tentang otak dari para ahli psikologi dan neurosaintis. Di buku itu jelas sekali digambarkan betapa hebatnya otak setiap anak. Bahkan komputer super canggih yang pernah diciptakan manusia pun tidak pernah ada yang mampu menandingi komputer alam, yaitu otak anak kita. Selain itu, juga dijelaskan bahwa kemampuan itu  tidak hanya dimiliki oleh sebagian anak saja, melainkan oleh semua anak.

"Anak-anak kita harusnya tidak ada yang gagal, tetapi para pendidikanyalah yang gagal mengembangkan kemampuannya"

    Akan tetapi, mengapa pada akhirnya seolah-olah kemampuan super itu hanya dimiliki oleh sebagian anak saja. Oleh karena itu, sang serjana psikologi sosial menjelaskan berdasarkan penelitiannya, pada dasarnya kemampuan setiap otak anak hampir sama canggihnya. Hanya saja, itu semua masih bersifat kemampuan dasar yang siap dikembangkan (Potential Dorman Gen).

    Nah, yang justru menjadi kunci utama adalah, siapa yang mengembangkannya, dan apakah dia tahu persis bagaimana mengembangkan kemampuan otak masing-masing anak, yang walaupun memiliki kemampuan sama hebatnya, tetapi memiliki karakteristik dan pusat-pusat keunggulan yang berbeda-beda.

    Ya Tuhan ... jantung saya jadi berdebar-debar mendengarkan penjelasan ini, Jadi, ternyata semua anak itu mestinya bisa menjadi anak yang luar biasa jika si pendidiknya mengetahui persis bagaimana cara melakukannya. Sungguh penjelasan tersebut telah membuka mata saya bahwa anak-anak kita itu harusnya tidak ada yang gagal, yang ada adalah para pendidik yang gagal mengembangkan kemampuannya.

     Jika kembali ke sejarah, kita bisa melihat betapa anak-anak genius yang pernah tercatat oleh sejarah selalu memiliki orang-orang hebat di belakangnya sebagai sang pendidik sejati. Sebut saja Thomas Alfa Edison yang memiliki Nancy Alliot, ibu sekaligus motivator bagi anaknya, yang berhasil menjadi Edison dari anak yang gagal di sekolah dasar menjadi ilmuwan terkemuka dunia dengan lebih dari 1000 temuan yang dipatenkan. Begitu juga dengan Dr. Arun Gandhi yang memiliki ayah dan kakeknya, Mahatma Gandhi, sebagai pendidik sejatinya.

    Mari bersama-sama kita jawab mwlalui hati nurani terdalam, sesungguhnya anak yang gagal belajar atau kita yang gagal mengajar?[]


keterangan : dikutif dari Buku Ayah Edy berjudul "Punya Cerita",(penerbit Noura Book.PT Mizan Publika,2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar