Senin, 07 November 2016

Franchise di Indonesia

Sekolah di Mata Siswa

Hasil gambar untuk gambar kartun anak tidak senang di sekolah

      Wahai para orangtua dan guru yang saya cintai, pernahkah Anda jalan-jalan dan mampir di sebuah warnet pada jam-jam anak bersekolah? Saya jamin Anda akan menemukan pemandangan yang mengagumkan dan sekaligus mencengangkan. Di sana, Anda akan menemukan barisan anak-anak berseragam sekolah yang sedang asyik bermain game online. Sebagai seorang praktisi pendidikan, pemandangan ini mengusik perasaan saya.

        Apa gerangan yang menyebabkan mereka lebih memilih ke warnet daripada belajar di sekolah? Apakah karena mereka yang kuarang terdidik atau justru sekolah mereka yang tidak menarik? Namun, saya pikir apa pun alasannya, keadaan ini sungguh tidak layak terjadi di negeri yang sudah carut-carut seperti ini. Iseng-iseng saya bertanya kepada anak-anak ini.

       "Eh, kenapa kalian kok enggak pada sekolah, bolos ya?"
Dengan nada acuh tak acuh mereka menjawab, "Iya, Om. Bosen di kelas melulu tiap hari, gitu-gitu aja enggak aada tantangan. Asyikan main game kayak gini, banyak tantangannya, Om".

      Untuk memuaskan rasa ingin tahu, saya coba tanyakan kepada teman lainnya pertanyaan yang sama. Lalu jawab si anak, "Iya, Om aku bolos, abis gurunya pada galak-galak sih. Bisanya cuma nyuruh ngerjain tugas aja. Dah gitu dia malah ngeloyor keluar enggak tau ke mana", Begitulah kira-kira dialog asli saya dengan mereka.

"Hampir 75% responden mengatakan bahwa mereka mau pergi ke sekolah karena ingin bertemu dan berkumpul bersama teman-temannya Bukan untuk tujuan belajar".

     Suatu hari raya pernah menebar angket kepada siswa SLTA di kota Bogor untuk mengetahui seberapa besar ketertarikan mereka pada proses belajar-mengejar di sekolah. Yah, hasilnya hampir sama. Hampir 75% responden mengatakan bahwa mereka mau pergi ke sekolah karena ingin bertemu dan berkumpul bersamateman-temannya. Bukan untuk tujuan belajar.

     Para orangtua dan guru yang saya cintai, anehnya ada satu sekolah yang juga berada di kota Bogor, yang murid-muridnya merasa begitu antusias pergi ke sekolah. Mereka betah untuk terus mengerjakan tugas-tugas, walaupun jam belajar sudah usai.
Anak-anak ini sering sulit sekali diajak pulang sehingga sebagian sopir mereka sering kewalahan meminta mereka untuk pulang.

       Lalu, ada apa sebenarnya dengan sekolah-sekolah yang para muridnya tidak betah di sekolah dan bahkan lebih betah di warnet? Ya, tentu saja jika tanyakan kepada sekolah tersebut, para gurunya dengan enteng akan menjawab, "Oh anak-anak itu memang sering mbolos, pak. Mereka memang sudah biasa begitu". Ya, lagi-lagi anak-anak kitalah yang bersalah. Kita, para guru, tidak pernah merasa bersalah.[] 

Keterangan : Buku Ayah Edy, Judul : Punya Cerita, Penerbit : Noura Books (PT Mizan Publika) 2013 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar