FRANCHISE PENDIDIKAN

Anak yang Tidak Suka Belajar
Hasil gambar untuk gambar kartun anak malas belajar
     Para orangtua dan guru yang berbahagia di mana pun Anda berada, banyak orangtua yang datang berkonsultasi, mengeluhkan anaknya yang katanya tidak mau belajar. Pernah seorang ibu bercerita kepada saya, "Anak saya ini, lho, Yah. Kalau disuruh belajar, waduh susahnya minta ampun".

      Lalu dengan bergurau saya bertanya, "Bagaimana jika disuruh bermain, apa susah juga?"

"Ya jelas enggak, lah ... kalau bermain tak perlu disuruh langsung lari," katanya lagi.

     Nah, itulah permasalahan yang dihadapi oleh hampir setiap orangtua di seluruh Indonesia. Padahal faktanya, anak memiliki software program belajar yang sudah terbawa sejak lahir di dalam otaknya. Ada juga yang menyebut software ini sebagai "insting belajar".

   Coba perhatikan, pernahkah Anda mengajari bayi Anda untuk tengkurap, tetapi tiba-tiba suatu ketika dia sudah bisa tengkurap, kemudian telentang, dan merangkak. Apakah Anda yang ajarinya atau insting belajarnyakah yang membuat semua ini terjadi? Pada hakikatnya, insting belajar ini senantiasa mengajak anak untuk belajar. Jadi, akan aneh jika seorang anak yang memiliki software belajar yang canggih justru tidak mau belajar. Apakah anaknya yang salah atau kitalah yang keliru mengajarinya?

"Ada tiga kategori besar sistem otak yang berhubungan dengan belajar, yaitu organ berpikir kreatif, organ berpikir logika, dan organ berpikir memori".

   Menurut pakar pendidikan yang mempelajari sains otak, secara alami, organ pembelajaran itu bergerak mulai dari organ berpikir kreatif menuju organ berpikir logika, terakhir hasinya disimpan di organ berpikir memori. Namun, mengapa anak-anak kita menjadi sulit, bahkan anti terhadap apa yang namanya belajar? Karena kita para orangtua dan sekolah pada umumnya mengartikan belajar hanya "menghafal", yakni hanya menggunakan organ berpikir memori, yang juga dikenal dengan Memory Learning atau yang juga sering dipletkan menjadi Parrot Learning, belajar ala beo.

     Selama ini, sistem pembelajaran telah menentang proses alam atau penciptaan Tuhan dalam sistem bekerja otak. Dalam proses belajar, mestinya yang pertama kita lakukan adalah memancing proses kreatif setiap anak. Caranya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang menarik minat anak, seperti mengapa ulat bisa berubah menjadi kupu-kupu. Jika proses kreatif itu sudah bekerja, secara otomatis si anak akan tergerak mengaktifkan otak logika untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kreatif tadi.

   Pada akhirnya, setelah proses selesai, tanpa diminta, semua yang telah dikerjakannya akan disimpannya dalam memori. Namun, jika proses memori, tidak akan menyentuh proses kreatif, apalagi logika. Tentu saja hal ini tidak akan menarik minat anak. Itulah sebabnya mengapa mereka susah diminta untuk belajar.

    Contoh yang paling sederhana dari anak-anak yang dibesarkan dengan proses kreatif adalah Sir Isaac Newton. Pada saat Newton beristirahat dan tertidur di bawah pohon apel, tiba-yiba jatuh buah apel menimpa kepalanya. Apa reaksi dari Newton?

    Wow! Apakah gerangan yang menyebabkan apel ini bisa jatuh ke bawah? Maka terciptalah Hukum Gravitasi Newton. Seandainya kejadian yang sama terjadi pada Anda. Saat Anda terkantuk-kantuk di bawah pohon mangga, lantas ada mangga jatuh ke kepala Anda, apa kira-kira reaksi Anda?Akankah tercipta hukum gravitasi kedua setelah kejadian itu?

      Mengapa kita tidak juga mau mengubah sistem belajar anak-anak kita, baik di sekolah maupun di rumah, agar mereka menjadi karanjingan untuk selalu belajar? Ya, persis seperti salah satu sekolah yang pernah kami kunjungi di Bogor. Di sana muridnya sulit sekali diajak pulang, walaupun jam belajar sudah usai.[]

Keterangan : Buku Ayah Edy, Judul " Punya Cerita, Penerbit :Noura Books ( PT Mizan Publika ) 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar